Rintik hujan menelan jalanan dengan air yang ia jatuhkan. Luar biasa basahnya badan seorang kekar bernama Madi yang sedang patah hati malam itu. “Sedang apa dirimu Madi, bukankah masih banyak wanita lain yang sedang menunngumu. Jadilah kuat Madi. Malulah pada tubuhmu yang kekar itu”, Madi berusaha menyemangati dirinya dalam hati.
Dipersimpangan jalan tampak cahaya merah menyuruh seorang Madi untuk menghentikan motornya. Kuyup saat itu membuat badan Madi merinding kedinginan. Dilihatnya kiri kanan persimpangan yang sepi tanpa nyawa manusia. Pohon-pohon tak karuan bergerak ke sana ke mari, entah angin apa yang meniupnya, yang jelas Madi tidak terhibur dengan gerakan pohon-pohon itu. “Begitu sepi malam ini. Kenapa pula hati ini harus bergemuruh di tempat sesunyi ini?”, Madi masih berusaha menolak galau yang sedang dia rasakan. Lampu hijau pun berkedip kepada Madi seolah dia menasihatinya bahwa perjalanannya di dunia ini masihlah panjang.
Cilegon memang sedang mengalami musim penghujan kala itu. Tak bisa dipungkiri, hujan di bulan Desember ini sangatlah di tunggu-tunggu oleh sebagian orang di Cilegon. Rasanya Madi pun bersyukur malam ini dapat di temani oleh hujan yang begitu deras. Meskipun hati Madi terasa panas, kini panas itu perlahan-lahan dapat menerima kedinginan yang di bawa oleh rintik hujan.
Sampailah Madi di kosan tempat tinggalnya di Cilegon. Madi berusaha menahan nafas ketika melepaskan sepatunya yang basah oleh rintik hujan. Bau sepatunya yang tidak karuan sejak sore tadi memang menyita perhatiannya. Malu sekali dirinya ketika harus menyumpatkan sepatu baunya di tempat les tadi sore.
Laptop kini menemani Madi dalam sunyinya kamar kosan. Terang oleh lampu, terasa gelap bila dibaca oleh hati yang galau. Madi kini bercerita pada laptopnya tentang kejadian siang hari tadi. “Hari ini aku putus dengan Mira. Tidak apalah, yang penting dia bahagia. Cinta seharusnya begitukan. Tidak perduli diriku ini kecewa, yang penting Mira bahagia”, ketikan Madi pada Microsoft Word 2007 di laptopnya.
***
“Di, bolehkan Mira minta sesuatu yang belum pernah Madi kasih ke Mira”, permohonan Mira pada Madi.
“Apa itu Mir?”, tanya Madi penasaran.
“Jangan kaget yah Di. Mira sebetulnya enggak mau bilang permohonan ini, tapi hati Mira ini loh selalu mendesak Mira untuk bersegera bilang ke Madi.”
“Permohonan apa itu Mir?”
“Mira minta putus sama Madi.”
Sontak Madi kaget dan melongo sebentar mendengar pernyataan yang ia dengar dari kekasihnya itu.
“Maksudnya gimana?”, Madi tak percaya.
“Iya, kita putus. Kita enggak usah deket-deketan atau SMS-an lagi”, kata Mira membela diri.
“Kenapa Mir?”, Madi masih tidak percaya.
Tiba-tiba tetesan air mata keluar dari pelipis mata Mira. Madi masih melihat Mira dengan raut muka tak senang, tapi Mira, Mira kini tertelan dalam renungannya. Entah apa yang dipikirkan Mira, Madi menunggu jawaban yang ingin dia dengar dari kekasihnya itu. Suasana kala itu begitu ramai di kelas XII IPA 5, tapi mereka berdua tak menghiraukan hal itu. Mungkin mereka yang melihat kami pun tak mau mengganggu kami berdua yang sedang serius membicarakan tentang hubungan kami yang telah berjalan hampir tiga tahun.
“Kenapa Mir?”, suara Madi agak keras kepada Mira.
Mira tetap diam. Entah apa maunya, yang jelas Madi kebingungan ketika kekasihnya itu tiba-tiba saja ingin memintanya putus. “Apa maksudmu Mir. Kenapa kamu harus menangis juga. Ada apa dengan muka manismu itu. Aku belum melihat semangatmu yang biasanya di pagi ini. Aku mungkin tidak langsung menyapamu tadi pagi. Ketika dirimu memanggilku dan meminta permohonan yang mungkin akan ku tolak mentah-mentah. Rasanya aku benar-benar tak percaya kamu meminta hubungan kita berakhir begitu saja”, Madi berbicara pada hatinya.
“Apakah ada lelaki lain Mir?”, Madi masih berusaha berkomunikasi dengan Mira.
Mira bungkam. Tidak terlihat perubahan ekspresi ketika Madi menanyakan tentang lelaki lain selain dia. Madi dapat menghela nafas pendek, ternyata bukan tentang lelaki lain. “Tapi, apa yang membuatmu berubah Mir, tahu-tahu kau berusaha untuk melupakan aku begitu saja”.
Bel istirahat sekolah berbunyi, Mira tetap saja diam. Madi tak pernah memakai kekerasan bila dia sedang dikecewakan oleh Mira. Hubungan pacaran bukankah hanya status pengakuan dari lingkungan, jelas Madi tak ingin melihat lingkungan mengoloknya ketika dia berbuat kasar terhadap Mira, kekasihnya. Madi akhirnya berusaha untuk menerima keinginan Mira. “Hari ini aku putus dengan Mira. Tidak apalah, yang penting dia bahagia. Cinta seharusnya begitukan. Tidak perduli diriku ini kecewa, yang penting Mira bahagia”, kata Madi dalam hatinya yang terdalam.
***
Madi akhirnya menutup laptop pemberian bibinya. Dia kini rebahan di atas kasur busa yang mungkin tidak terasa empuk lagi, karena memang setiap malamnya kasur itu selalu tertimpa oleh tubuh Madi yang kekar. Sepenggal kisah hari ini telah ia tulis dalam laptopnya. Buku harian, Madi memiliki buku harian di laptopnya. Tentang pertama kali jadian dengan Mira pun ada kisahnya.
Madi lalu mengkhayalkan pertemuan pertama dengan Mira dalam rebahanya. Terlihat rupa awal-awal Mira tak berkerudung, namun tetap manis dilihat. Ketika itu Mira memang seperti laki-laki, Madi tersenyum simpul ketika kembali mengingat hal itu. Wanita tomboy yang angkuh, paparnya dalam hati.
Madi melihat seisi lapangan bola basket. Ada tiga anak perempuan yang sibuk memainkan pergelangan tangannya ketika mendapatkan bola. Ketika itu panas terik dirasakan Madi yang sedang duduk di pojokan tempat duduk lapangan, sendirian. Madi heran dengan tiga anak perempuan yang belum ia kenal itu, kenapa di cuaca yang tidak begitu bersahabat mereka bertiga tidak bersifat seperti anak perempuan biasanya.
Madi mendatangi mereka dengan membawakan air minum dalam kemasan. Seorang pria harus melakukan hal itu kan bila ingin berkenalan dengan wanita.
“Hei, ada yang mau minum nggak? Kalian pasti cape kan. Ayo minum dulu”, kata Madi menawarkan.
Tiga wanita itu ditakdirkan tidak satu kelas dengan Madi. Kelas sepuluh memang masih di petak-petakan kala itu oleh hasil ujian masuk sekolah. Madi tak kenal mereka, mereka tak kenal Madi. Mereka merasa asing dengan Madi. Madi pun sadar akan hal itu. Dia langsung memperkenalkan diri.
“Nama saya Madi, asli orang lampung. Kalian bertiga orang Cilegon yah, dan mungkin bila saya duga-duga, kalian bertiga dulunya satu Sekolah Menengah Pertama yah”
Mereka bertiga masih canggung dengan Madi yang asing dalam pandangan mereka. Wajar sekali mereka berikan kesan aneh di awal kepada Madi.
“Iya, kami satu sekolahan dulu. Kamu asli lampung, lampung belah mananya?”, tanya seorang dari mereka yang langsung mengambil air minum yang ku tawarkan.
“Saya di kota madyanya. Kalian asli orang Cilegon?”, tanyanya lagi.
“Itu Mira, dia asli orang sunda. Ibu bapaknya perantauan dari Bandung. Yang ini namanya Siska, dia orang Cilegon asli. Coba saja berbicara dengannya, pasti kamu kan sadar perbedaan logatnya. Dan terakhir saya, nama saya Dona, saya keturunan orang jawa yang hampir sama dengan Mira. Ibu bapak saya perantauan”, seloroh Dona memperkenalkan teman-temannya.
“Salam kenal”, Madi tersenyum.
Sepenggal kisah tentang perkenalan anak manusia yang terbilang biasa saja. Tidak ada yang special dari perkenalan Madi dengan tiga wanita perkasa itu. Yang jelas semenjak itulah Madi akrab dengan tiga wanita itu.
Dari tiga wanita yang iya kenal, ada satu wanita yang menarik hati Madi untuk mengenal lebih dalam tentang dirinya. Mira Agustina, jelas sekali dia di lahirkan di bulan agustus. Entah mengapa, dari ketiga wanita yang ia kenal itu Mira lah yang menarik hatinya untuk berlabuh, padahal bila di banding-bandingkan dengan Dona, wajah Dona lebih terlihat manis ketimbang wajah Mira. Yang namanya cinta tidak seharunya bertanya tentang mengapa atau apa. Yang jelas inilah cinta yang tidak bisa di duga-duga.
***
Jam beaker berbunyi tanda subuh datang. Madi sedang bersimpuh di atas sajadah panjang sebelum jam beaker itu berbunyi. Di bawah kolong langit Madi tetap berharap doa yang ia lemparkan kelangit dapat di kabulkan oleh sang maha pemberi rizki. Madi memang tidak biasanya shalat tahajjud dan witir, jelas sekali seorang seperti Madi memang seperti kebanyakan orang sekarang, berdoa hanya ketika dia punya masalah saja.
Kumandang qomat memanggil Madi untuk bersegera ke masjid. Entah semangat apa yang sedang dia rasakan, walaupun gerimis ternyata dia tetap ke masjid. Luar biasa sekali pengaruh putus hubungan dengan Mira ternyata. Semangat agar doanya dikabulkan oleh sang kholik, mengalahkan esensi makhluk seharusnya. Makhluk tak seharusnya mendewakan sesuatu apapun selain penciptanya. Bukan mendewakan patung, bukan mendewakan harta, bukan mendewakan jabatan, dan bukan pula harus mendewakan seorang perempuan.
Basuhan demi basuhan menyapu pori-pori kulit Madi. Begitu dingin air wudhu di awal hari itu. Mungkin sebagian manusia malas berhadapan dengan dinginnya air, tapi Madi tidak seperti biasanya, dia menikmati sapuan air yang diciptakan oleh tuhannya. Sarung yang dari tadi dia pegang sekarang dia kenakan. Rapih menghadap sang kholik, berusaha meyakinkan bahwa hambanya yang satu ini pun dapat bersujud di mesjid subuh hari ini.
Shalat pun selesai dikerjakan. Kini Madi bersiap untuk pergi ke sekolah. Cukup jauh jarak yang akan di tempuhnya. Hampir sepuluh kilometer jarak seorang pelajar Madi harus mengendarai motornya. Hari ini Madi harus bersikap sewajarnya. Tak akan ada lagi kekasih yang dia harapkan penantiannya. Semangat belajarlah yang kini ia tanamkan dalam-dalam.
Gerimis. Mendung itu sepertinya tetap tak mau pergi. Terpaksa Madi mengeluarkan jas hujannya agar tak ke basahan sampai ke sekolah. Tak lupa dia mengucapkan doa yang baru dia hafal tadi malam, Bismillahi tawakaltu Alallah (Dengan menyebut nama Allah, aku ertawakal kepada-Nya).
Motor pun di nyalakan, menderu dan berasap mengepul. Luar biasa deruan sang mesin ketika patuh dengan tuannya. “Ayo berangkat macan. Jangan buat tuanmu ini terlambat datang ke sekolah”, teriak Madi dalam hati.
Perjalanan Madi lancar, selancar hembusan dingin yang di bawa oleh rintik hujan. Setelah gerimis, datanglah hujan lebat. Siapa orang yang tidak malas apabila baju dinasnya kebasahan. Walau bagaimana pun jas hujan menutupi tubuh Madi yang kekar, tetap saja sebagian dari tubuh Madi ada yang kebasahan karena cipratan air di jalanan.
Di persimpangan, Madi di hentikan oleh lampu merah yang mungkin tak pernah mau berkomentar tentang harus berhenti atau tidak menjadi seonggok tiang dan selalu berusaha menyelesaikan tugasnya mendisiplinkan para pengguna jalan. Madi, melihat sekelilingnya yang penuh sesak dengan kendaraan. Asap kendaraan bermotor tidak cukup jelas di lihat oleh mata telanjang ketika rintik hujan berusaha memastikan harus dirinyalah yang sekarang di perhatikan di jalanan.
“Minta receh pa?”, permohonan anak kecil yang tiba-tiba muncul dari pinggiran jalan.
Madi sulit mengeluarkan uang dalam kondisi berjubah jas hujan. Dipikirnya sebuah alasan untuk tidak dapat memberikan uang di saat sekarang. Madi takut seragamnya kebasahan. “Jangan buat anak kecil itu menunggu Madi, buat dia senang dengan sedikit uang di kantong celanamu, hilangkan alasan untuk berbuat hal yang terbaik di pagi ini”, hati kecilnya mengingatkan. “Jangan hiraukan rintik hujan yang tak peduli nasib seorang pejuang kecil yang ingin perutnya di isi dengan makanan”, kembali hati kecilnya menyemangati. Dengan santai di rogohnya kantong celana panjanganya yang sedikit terkena hujan. Tertariklah uang sebesar lima ribuan dari kantong celana Madi. Ketika ingin mengganti kan uang itu dengan uang seribu rupiah terbesit dalam pikiran Madi, “Luar biasa sombongnya kau Madi. Kenapa kau masukkan lagi uang yang telah kau perlihatkan pada anak kecil itu. Cepat berikan padanya, dia menunggu tanganmu memberinya makan”. Dilepaskanlah uang yang tadi keluar pertama dari kantong Madi. Anak kecil itu pun kegirangan dan berlari menghempaskan dirinya ke jalanan.
Madi terlambat masuk sekolah, bukan karena motornya yang kaku kedinginan. Madi sudah berusaha keluar dari cengkraman sang rintik hujan, namun waktu memang tak mau mengalah. Pintu gerbang sudah tertutup rapat. Harus ada alasan untuk dapat masuk ke dalam sekolah, tegur sang satpam. Kenapa tetap harus di tutup kalau jelas alasannya tentang rintik hujan yang tak mau bersahabat.
Di balik pintu gerbang yang di tutup oleh pa satpam, ternyata waktu memang mengizinkan Madi berpapasan dengannya lagi. Mira datang dengan mobil sedan. Terlihat dia membuka payungnya. Di pikirannya mungkin sedang terpenuhi apa alasan yang ingin dia pakai untuk masuk ke dalam sekolah, jelas sekali bukan karena keterlambatan mobilnya, mungkin karena menunggu hujan sedikit reda dahulu baru sang ibu mau mengantarkan anaknya ke sekolah.
Walau Madi dan Mira nantinya akan bertemu di kelas, rasanya momen di luar sekolah seperti yang dialami pasangan itu baru saja di rasakannya kali ini selama tiga tahun. Madi dan Mira terdiam, mereka menyapu serpihan pipi kemerahannya masing-masing. Meski Madi belum mengatakan setuju dengan keputusan Mira untuk menyudahi hubungan, Madi tetap merasa tidak mengobrol atau mengSMSinya lagi adalah sesuatu yang salah. Tidak semestinya yang dulunya pacaran, sekarang jadi musuh abadi.
Mereka satu persatu menyampaikan alasan. Pa satpam pun rasanya mengerti walaupun tidak memakai alasan yang sedemikian rumit. Pintu gerbang di buka, Madi lebih dulu masuk ketimbang Mira. Madi tidak tahan untuk tidak mengajak Mira masuk dengan motornya sampai ke dalam sekolah.
“Mir, mau ikut saya masuk ke dalam enggak”, sapaku halus.
Mira diam, dia tetap berjalan dengan payung pinknya.
“Mira, ayolah. Saya nggak mau bunga mawar sepertimu kehujanan di musim hujan seperti ini”
Mira tetap diam. “Mir, andai ku bisa menguasai pikiranmu. Rasanya ingin sekali aku dapat mengetahui apa yang sedang kamu pikirkan sekarang tentang aku. Aku tak tahu, dan sebetulnya ingin tahu, kenapa tiba-tiba saja kamu ingin menjauhkan dirimu dari sisiku. Akankah kau menerimaku di sisimu lagi. Aku mohon dengarlah suara hatiku yang bergemuruh karena kekecewaan yang telah kau buat”, Madi berbicara dengan hatinya. Terpisahlah dua orang anak manusia itu dalam rintik hujan yang belum mau meredakan egonya.
***
Mira tersenyum melihat Madi melucu di depan kelas. Sekarang pelajaran bahasa indonesia, pelajaran yang sangat Madi sukai. “Kamu akhirnya tersenyum lagi Mir melihatku. Tolong pertahankan senyum itu Mir untukku”, Madi berkata dalam hati ketika melihat ke arah Mira. “Sungguh tak lucu lagi rasanya diriku ini, bila kamu tak tersenyum lepas seperti itu lagi”, Madi masih terus melucu di depan kelas.
“Beri tepuk tangan kepada Madi!”, seru bu Ida selaku guru bahasa indonesia di kelasku.
“Jangan pernah sekalipun kalah dengan kemampuan diri kalian murid-muridku. Lihatlah Madi yang begitu lepas memamerkan bakatnya. Buat dirimu sespecial mungkin, untuk semangat yang tidak dapat tergambarkan dalam dirimu. Curahkanlah, kalau bisa setitik cahaya yang ada di hatimu untuk orang lain. Ketika kalian berada di depan sini, pikirkan orang lain yang akan melihat kalian. Tunjukkan perform terbaik untuk teman-teman kalian di sini. Mulai dari ruang lingkup sekecil kelas ini kalian bisa belajar di luar sana dengan ruang lingkup lebih besar lagi tentang bagaimana cara membahagiakan orang lain. Selanjutnya siapa yang ingin maju menampilkan bakatnya?”, Semangat bu Ida menasehati murid-muridnya yang memang dari sebagian kecil muridnya masih takut untuk ke depan kelas.
Kelas rasanya selalu ramai bila bu Ida yang mengajar. Entah, pelajaran lain, seperti fisika, kimia, matematika, semua pelajaran itu sangatlah membosankan bagi Madi, teman-temanya pun mungkin beranggapan seperti itu.
Kelas berakhir, istirahat sekolah pun datang. Madi duduk sendiri di bawah pohon rindang sekolahnya. Madi tak mengerti, kenapa matahari belum mau menampakan cahaya terangnya yang jelas, hatinya benar-benar galau. Tampak dari sebagian awan mendung rupa Mira kekasihnya. Terbersit lagi pikiran, “Kenapa kau putuskan aku Mir. Salah apa diriku. Kemarin malam aku menelponmu, dan ternyata tak ada respon darimu. Di telpon saja tidak di angkat apa lagi diriku mengSMSimu bisa mati menunggu diriku mengharapkan kau membalas.
***
Malam itu Madi MengSMSi Mira, “Mir, andai Bumi dan Langit bisa di satukan. Ku ingin kau melihat aku dapat menyatukan mereka berdua untukmu. Sayangnya Bumi dan Langit tak pernah ingin bersatu, jadilah mereka terpisah menjadi Langit yang di atas kita dan Bumi yang ada di bawah kita. Kamu tahu Mir bagaimana langit cemburu kepada bumi, karena makhluk yang dicintai Allah hanya di diamkan di bumi, Kamu tahukah?. Perjalanan isra mi’raj adalah bukti sayang Allah pada langit yang iri pada bumi. Langit begitu senang Mir di lewati oleh tuntunan kita sekaligus penyelamat kita di hari akhir nanti”.
“Mir, andai kamu tahu seberapa penasaran diriku ini melihatmu sekarang. Aku ingin mendekatimu, tapi dirimu selalu saja ingin menjauhiku. Kau tau tidak Mir, rasanya sakit Mir, sakit di jiwa ini. Biarkan aku hanya menjadi temanmu Mir. Biarkan diri ini tetap dapat berkomunikasi denganmu. Jangan buat diriku ini sakit Mir. Memang, kau bukan yang halal bagiku, tapi bolehkan kita tetap saling menukar pendapat seperti waktu itu. Tolong Mir, buat temanmu ini bahagia lagi. Bila kamu tidak membalas SMSku. Kamu telah tega menutup cinta kasih yang ada dalam hatiku. Jadi tolong beri pengertian pada hatiku yang hampa ini Mir!”, ketikan SMS dari Madi untuk berusaha meyakinkan Mira bahwa dirinya kebingungan.
Lama Madi menunggu balasan Mira. Tak terbantahkan Mira sepertinya memang ingin menghancurkan hati Madi. SMS Madi sudah dikirim pada jam tujuh malam, jam satu pagi Madi masih tetap menunggu balasan dari Mira. Dengan rasa kecewa dan marah Madi mengetikan SMS marah kepada Mira.
“Parah sekali kau Mir. Telah lama ku tunggu balasan darimu. Kau buat diriku kecewa dengan sikap diammu. Aku menyesal telah mengenalmu Mir. Andai kata Bumi dan Langit ingin bersatu, aku yang sekarang akan memisahkannya untukmu Mir. Kamu telah mematikan hatimu untukku, aku pun akan mematikannya untukmu, Jadi jangan salah kalau aku mengibarkan bendera perang melawanmu Mir”, ketikan Madi pada Mira.
***
Madi bangun kesiangan. Melihat jarum panjang jam beakernya berada di angka sembilan, dia pun tidur lagi sebagai protes pada sikap Mira yang mendiaminnya. Sungguh luar biasa galaunya hati Madi. Hampir seharian dia tidak keluar dari kosannya, untuk wudhu pun tidak mau. Ternyata, setelah protes kepada Mira, kini Madi protes pada tuhanya. Dia memutuskan untuk tidak shalat, sebagai langkah protes pada sang kholik. Dinyanyikanya lagu Give Me Some sunshine yang merupakan lagu soundtrack film India ‘Three Idiots’.
Sementara itu, Mira merasa ada pukulan besar dari setiap SMS yang dikirim oleh Madi tadi malam. Tadi pagi Mira baru saja melihat SMS itu. Luar biasa menyakitinya, benar-benar menyakitinya. SMS yang datang memasuki Hp Mira benar-benar ingin di perhitungkan kepada Madi di kelas. Mira sebetulnya masih sayang dengan Madi, akhirnya Mira ingin memberikan alasan yang mungkin akan membuat Madi menerima segala kediamannya.
Setelah mematahkan simcard-nya Madi akhirnya keluar mencari makan. Entah seberapa besar kekecewaannya pada Mira, yang jelas sekarang Madi seperti kehilangan tujuan hidupnya, Semua orang hidup untuk seseorang yang dia sayangi. Sangat tidak bisa di sanggah lagi, kekuatan dan pengaruh kepedulian orang lain kepada diri kita dapat mempelopori kinerja kita di dunia ini. Kita memiliki peran masing-masing. Regenerasi selalu ada tiap zamannya, tapi kita yang memiliki peran khusus, tidak akan ada lagi setelah kita mati dan menghadap kepada yang menciptakan kita.
***
“Aku enggak tau kamu bagaimana sekarang keadaannya. Yang jelas aku enggak suka ngeliat kamu yang begitu keras sekarang. Kamu sekarang terlalu arogan Mad. Lihat dirimu Mad, masalahmu hanya diriku ini, kau sudah jadi tak berbentuk seperti ini. Mana Madi yang selalu di banggakan bu Ida dulu. Sebulan ini kau tak bersosilisasi dengan teman-temanmu di kelas. Nilaimu pun jelek-jelek sekarang. Kenapa harus seburuk ini dirimu Mad”, Mira memberanikan diri untuk mengembalikan semangat Madi lagi.
“Kau yang mulai Mir. Kau yang membuatku diam, kau yang membuat hatiku tak bercahaya lagi, kau juga yang telah membusukkan setiap saraf dalam tubuhku yang seharusnya tumbuh dengan subur”, kata Madi membela diri.
“Sekarang aku harus bagaimana Mad. Aku sudah memaparkan alasanku kan, yang memang tidak bisa kau terima itu”, jawab Mira.
“Alasan bodoh untuk mendiamiku tiap hari dalam seminggu Mir. Jika ayahmu mati, memang seharusnya begitukan, semua yang hidup pasti akan mati. Kenapa harus tidak ada kabar juga tentang ayahmu yang meninggal. Jika alasannya dirimu ingin sekali memenuhi kebutuhan keluargamu, seperti memberikan ongkos haji untuk ibumu, kamu tahu sendiri, aku sedang belajar untuk menghasilkan itu. Menghasilkan sesuatu untuk keluargaku dan untuk keluargamu juga. Aku sedang belajar untuk itu Mir di sekolah ini. Aku sedang belajar”.
“Kamu tahu Mir, aku kehilangan tujuan hidup karena dirimu yang sebenarnya secara garis besar telah memberikanku tujuan itu. Jika kamu tanyakan kamu harus bagaimana menghadapi aku. Tolong beri cahaya itu lagi, berikan tujuan hidup untukku lagi. Yang aku inginkan hanya kamu Mir”.
“Kamu tahu tujuan sebagian orang cacat tetap menginginkan kehidupan Mir, jiwa mereka yang besarlah yang menuntun mereka dalam sindiriran orang-orang yang sempurna bentuknya. Mereka merasakan masih ada yang mencintainya, makanya mereka tetap hidup. Kamu tahu Mir kini aku benar-benar merasakan sakitnya kesepian. Sakit fisik lebih baik dari pada sakit hati Mir menurutku. Ketika kau bertanya kenapa aku tidak mau berjiwa besar, itu sebab dirimu yang tidak menginginkannya. Kenapa baru sekarang-sekarang kau paparkan alasan kamu mendiamkanku. Sungguh tidak adil Mir untuk jiwaku yang penasaran”, Madi menangis merintih.
Mira diam. Semua yang di kelas pun terkaget-kaget mendengar ucapan Madi yang cukup keras. Bu Ida sendiri menangis mendengar ucapan lantang murid kesayangannya itu. Suasana di kelas memang sudah tidak kondusif lagi. Madi dan Mira kini di bawa ke BK tempat semua murid berkonsultasi masalah apapun. Entah masalah internal atau eksternal.
Cilegon, 16 Desember 2010 09:41
Rumah keluarga, Cilegon - Banten

Lumayan, cerpen ini sempat d posting d majalah...
BalasHapus