Jumat, 08 Juni 2012


MUSIM DINGIN DI KOTA CILEGON

Pagi ini salju turun di kota Cilegon, Banten. Musim dingin memang telah tiba. Aku berencana untuk tetap berolahraga di kelurahan kota bumi kecamatan purwakarta yang merupakan tempat dimana ada area Jogging Track dan Argowisata. Dengan stelan baju hangat dan sepatu olahraga, aku meluncur dengan menggunakan mobil.
Terpampang jelas gapura bertuliskan Jogging Track dan Argowisata di depanku. Dahulu, tempat ini diresmikan oleh direktur utama PT Krakatau Steel Persero, Fazwar Bujang. Dalam waktu sebulan, tempat ini berhasil diselesaikan dengan satu saung sebagai tempat beristirahat bagi para pejalan kaki. Dengan luas hampir 3,2 hektar, tempat ini pun dihuni oleh ribuan bibit pohon dari berbagai jenis.
Aku masuki area Jogging Track tersebut dengan membaca Bismillah. Aku mengharapkan pagi ini pun masih tetap diberikan kesehatan jasmani oleh penciptaku. Mp3 yang ada di kantung celanaku, ku nyalakan. Lagu-lagu Korea kini mendengung di telingaku. Aku memang sedang senang lagu-lagu korea sekarang. Betapa sekarang sedang tren hal-hal tentang Korea dari film-film drama atau boyband dan girlband yang enak dipandang. Jaringan internet pun sekarang sangat mudah di akses, betapa banyak handphone sekarang yang menawarkan akses internet dengan begitu mudah. Zaman memang tidak pernah berubah, kita lah yang selalu berubah-ubah mengikuti pola pikir masyarakat masa depan yang haus akan teknologi dan pengetahuan.
Area Jogging Track ini begitu indah. Sepanjang aku berjalan, pohon-pohonnya laksana dilapisi kain putih. Mata ini tiba-tiba cemburu ketika melihat ada sepasang burung sedang merakit sarangnya. Tiba-tiba akal sehatku menolak tentang kejadian yang telah aku lihat. Seharusnya mereka bermigrasi ke tempat yang suhunya cukup hangat, bukan malah membuat sarang. Aku tidak terlalu lama memikirkannya.
Selain burung yang berpasangan, aku melihat muda-mudi sedang bermesraan disepanjang perjalanan. Ku lihat raut wajah mereka yang begitu gembira. Terkadang diriku dapat iri juga melihatnya. Aku tiba-tiba memikirkan pasanganku, sedang apakah dirinya. Ku rogoh kantung celanaku, ternyata handphoneku lupa ku bawa. Aku padahal ingin sekali mengiriminya pesan betapa aku sedang merindukanya sekarang.
Keringat sedikit demi sedikit berkucuran. Aku tidak menyangka, diriku ini masih semangat berolahraga, padahal udara begitu dingin dan kurang bersahabat. Dua putaran kuhabiskan dengan berjalan dan berlari. Melihat saung, aku beristirahat sejenak.
Saung di area Jogging Track ini cukup luas. Satu keluarga bahagia dengan anak-anaknya dan satu pasangan belum menikah menemani istirahatku di saung ini. Awalnya aku canggung karena datang sendirian ke area Jogging Track ini, tapi kuberanikan diri untuk menyapa dan berkenalan dengan satu keluarga yang ada di dekatku.
“Olahraga sekeluarga pa?”, aku menyapa kepala keluarganya.
Bapa itu tersenyum mendengar diriku menyapanya,”Owh, iya de. Saya sedang kumpul dengan keluarga. Ade sendirian disini?”
“Iya pa sendirian. Setiap hari saya kesini untuk jalan-jalan dan berlari-lari kecil”
“Wah, pantas saja badan ade terlihat begitu bugar. Kenapa ade tidak mengajak pasangan?”
“Itu saya lupa pa. Biasanya sih saya mengajak dia, sedikit mengganti suasana mungkin”
“Lihat pasangan yang di sana?”, dia menunjuk pasangan yang berada di dekat kami.
“Iya pa. Kenapa memang?”
“Tadi mereka berciuman di depan kami”
“Haah, bapa tidak bohong kan.”, aku kaget mendengar perkataan bapa itu.
“Bener de, untungnya anak-anak saya tidak melihat. Bapa ingin menegor, tapi yah tidak berani”
“Kok tidak berani pa. Bukankah kita sebagai muslim wajib menegor mereka”
“Ya sudah, sekarang ade tegor mereka saja”, suruhnya padaku.
“Hehe, tidak berani pa”, aku tertawa kecil.
Pasangan itu pun tiba-tiba melanjutkan perjalannya. Mungkin mereka sadar betul sedang dibicarakan oleh diriku dan bapa yang ada di sampingku ini.
“Tapi, saya benar-benar kawatir loh de dengan pergaulan anak-anak sekarang. Bagaimana kondisi anak-anak saya nanti ketika mereka sudah dewasa. Hal-hal pulgar seperti  itu mungkin dengan mudah dapat dijumpai.”
“Saya tidak bisa memikirkan hal sejauh itu pa. Yang jelas dunia ini selalu berputar dan pada akhirnya akan berhenti juga”
“Semoga ade bisa menjaga pasangan ade yah. Terkadang tanpa sadar kita dapat melakukan hal-hal yang tidak diinginkan seperti pasangan yang saya jumpai tadi”
Aku merenungi kalimat bapa tadi. Ucapannya benar, biasanya terkadang kita tanpa sadar melakukan hal-hal yang yang tidak diinginkan. Walaupun begitu, aku jadi semakin rindu dengan pasanganku. Sedang apa dia di cuaca sedingin ini. Rasanya ingin sekali membuat dirinya hangat dengan berada disampingku.
***
Gemuruh petir begitu menggema disekitar ruang kamar tidurku. AC yang ku setting sampai 160 Celcius dan jendela kamar yang terbuka membuat badanku menggigil. Benar-benar mengagetkan sekali petir yang menyambar kota Cilegon di sore hari ini. Aku mengangkat wajahku dengan kebingungan akan mimpi yang baru saja ku alami. Aku mengingat sedikit ucapan seorang bapa yang ada di dalam mimpiku. “Semoga ade bisa menjaga pasangan ade yah. Terkadang tanpa sadar kita dapat melakukan hal-hal yang tidak diinginkan seperti pasangan yang saya jumpai tadi”.
Aku ingat tentang jalan-jalanku bersama Dina tadi pagi. Aku tidak sengaja menciumnya di depan keluarga yang tidak aku kenal. Aku bergegas mencari handphoneku. Ku lihat ada tujuh kali misscall dan dua pesan di dalam handphoneku. Aku tiba-tiba merinding mengetahui bahwa ada misscall dan pesan di handphoneku.
Benar dugaanku, misscall dan pesan yang berada di handphone ku berasal dari Dina. Ku lihat dua pesan itu dengan seksama.
Pesan pertama :
‘Bebs, aku ketahuan orang tuaku tentang kejadian tadi pagi. Aku jadi menyesal sekarang. Apa yang harus ku perbuat Bebs. Tidak inginkah kamu menjelaskan sedikit tentang kejadian tadi pagi kepada orang tuaku. Aku benar-benar ketakutan sekarang. Ibuku menangis dan Ayahku masih sakit hati dan marah kepadaku’
Pesan kedua :
‘Kenapa kamu tidak mengangkat telponku Beb. Aku sekarang sedang butuh kamu. Apa yang harus kulakukan agar orang tuaku tidak marah lagi denganku. Tolong aku Beb’
Aku tiba-tiba menangis karena semua yang terjadi tadi pagi memang kesalahan mutlak dari diriku. Tapi, kenapa orang tuanya bisa tahu kalau aku berciuman denganya. Ku telpon Dina dengan perasaan bersalah.
“Halo, Dina”
“Iya, aku disini”, suaranya redup. Sangat jelas bahwa dia sedang menerima telponku sambil menangis.
“Maaf, yah soal kejadian tadi pagi di Jogging Track. Aku benar-benar khilaf”
“Trus aku harus bagaimana Bebs, lagi pula kita melakukannya atas dasar suka sama suka”
“Sejujurnya aku lepas kontrol saja waktu itu. Aku benar-benar menyayangimu dan tidak terpikir dibenakku bahwa aku sampai bisa berbuat hal yang tidak pantas itu”
“Ya sudahlah Bebs, aku juga salah. Terus apa yang harus aku lakukan agar orang tuaku tidak marah padaku lagi?”
“Aku akan ke rumahmu sekarang. Dan menjelaskan perihal kejadian yang tidak seharusnya itu kepada orang tuamu”
“Kita selalu backstreet kan Bebs. Sekarang kamu siap buat ketemu orang tuaku”
“Ya, memang seharusnya aku dari awal hubungan denganmu memiliki izin dari orang tuamu kan. Aku benar-benar bersalah kepadamu”
“Orang tuaku memang benci mendengar kata pacaran, Bebs. Jangan berkata yang macam-macam yah. Aku benar-benar masih ingin bersamamu”
“Tapi, orang tuamu tahu kejadian tadi pagi itu darimana yah?”
“Ceritanya begini Bebs, ternyata, keluarga yang melihat kita ciuman itu ada hubungan teman dengan Ayahku. Dia hafal betul dengan diriku, tapi aku tidak mengingat tentang teman Ayahku itu.”
“Owh, begitu yah. Kamu jangan menangis lagi yah. Aku akan ke rumahmu sekarang juga. Semoga orang tuamu memaafkanku dan memberikan izin untuk tetap berhubungan denganmu”
“Iya Bebs, makasih yah”
Klik, handphone kumatikan. Aku bergegas mengganti baju dan kemudian pergi untuk menemui keluarga Dina. Hujan tidak menjadi penghambat bagi dosaku yang mungkin tidak bisa dimaafkan. Kekhilafanku mungkin menjadikan luka bagi keluarganya. Apalagi bila sampai teman orang tuanya itu tahu bahwa anaknya berbuat sesuatu yang tidak pantas. Tidak ada salahnya untuk meminta maaf, bahkan memang aku harus minta maaf atas kesalahan yang telah aku perbuat. Aku akan siap menerima hukuman yang akan diberikan orang tuanya padaku meskipun memang diriku ini sulit untuk dimaafkan.


Selesai, di Cilegon, Banten.
Sabtu 17 September 2011, pukul 20:45 pm.