MUSIM
DINGIN DI KOTA CILEGON
Pagi ini salju turun di
kota Cilegon, Banten. Musim dingin memang telah tiba. Aku berencana untuk tetap
berolahraga di kelurahan kota bumi kecamatan purwakarta yang merupakan tempat
dimana ada area Jogging Track dan
Argowisata. Dengan stelan baju hangat dan sepatu olahraga, aku meluncur dengan
menggunakan mobil.
Terpampang jelas gapura
bertuliskan Jogging Track dan
Argowisata di depanku. Dahulu, tempat ini diresmikan oleh direktur utama PT
Krakatau Steel Persero, Fazwar Bujang. Dalam waktu sebulan, tempat ini berhasil
diselesaikan dengan satu saung sebagai tempat beristirahat bagi para pejalan
kaki. Dengan luas hampir 3,2 hektar, tempat ini pun dihuni oleh ribuan bibit
pohon dari berbagai jenis.
Aku masuki area Jogging Track tersebut dengan membaca Bismillah.
Aku mengharapkan pagi ini pun masih tetap diberikan kesehatan jasmani oleh
penciptaku. Mp3 yang ada di kantung celanaku, ku nyalakan. Lagu-lagu Korea kini
mendengung di telingaku. Aku memang sedang senang lagu-lagu korea sekarang.
Betapa sekarang sedang tren hal-hal tentang Korea dari film-film drama atau boyband dan girlband yang enak dipandang. Jaringan internet pun sekarang sangat
mudah di akses, betapa banyak handphone sekarang yang menawarkan akses internet
dengan begitu mudah. Zaman memang tidak pernah berubah, kita lah yang selalu
berubah-ubah mengikuti pola pikir masyarakat masa depan yang haus akan
teknologi dan pengetahuan.
Area Jogging Track ini begitu indah.
Sepanjang aku berjalan, pohon-pohonnya laksana dilapisi kain putih. Mata ini
tiba-tiba cemburu ketika melihat ada sepasang burung sedang merakit sarangnya.
Tiba-tiba akal sehatku menolak tentang kejadian yang telah aku lihat.
Seharusnya mereka bermigrasi ke tempat yang suhunya cukup hangat, bukan malah
membuat sarang. Aku tidak terlalu lama memikirkannya.
Selain burung yang
berpasangan, aku melihat muda-mudi sedang bermesraan disepanjang perjalanan. Ku
lihat raut wajah mereka yang begitu gembira. Terkadang diriku dapat iri juga melihatnya.
Aku tiba-tiba memikirkan pasanganku, sedang apakah dirinya. Ku rogoh kantung celanaku, ternyata
handphoneku lupa ku bawa. Aku padahal ingin sekali mengiriminya pesan betapa
aku sedang merindukanya sekarang.
Keringat sedikit demi
sedikit berkucuran. Aku tidak menyangka, diriku ini masih semangat berolahraga,
padahal udara begitu dingin dan kurang bersahabat. Dua putaran kuhabiskan
dengan berjalan dan berlari. Melihat saung, aku beristirahat sejenak.
Saung di area Jogging
Track ini cukup luas. Satu keluarga bahagia dengan anak-anaknya dan satu
pasangan belum menikah menemani istirahatku di saung ini. Awalnya aku canggung
karena datang sendirian ke area Jogging
Track ini, tapi kuberanikan diri untuk menyapa dan berkenalan dengan satu
keluarga yang ada di dekatku.
“Olahraga sekeluarga
pa?”, aku menyapa kepala keluarganya.
Bapa itu tersenyum
mendengar diriku menyapanya,”Owh, iya de. Saya sedang kumpul dengan keluarga.
Ade sendirian disini?”
“Iya pa sendirian.
Setiap hari saya kesini untuk jalan-jalan dan berlari-lari kecil”
“Wah, pantas saja badan
ade terlihat begitu bugar. Kenapa ade tidak mengajak pasangan?”
“Itu saya lupa pa.
Biasanya sih saya mengajak dia, sedikit mengganti suasana mungkin”
“Lihat pasangan yang di
sana?”, dia menunjuk pasangan yang berada di dekat kami.
“Iya pa. Kenapa memang?”
“Tadi mereka berciuman
di depan kami”
“Haah, bapa tidak
bohong kan.”, aku kaget mendengar perkataan bapa itu.
“Bener de, untungnya
anak-anak saya tidak melihat. Bapa ingin menegor, tapi yah tidak berani”
“Kok tidak berani pa.
Bukankah kita sebagai muslim wajib menegor mereka”
“Ya sudah, sekarang ade
tegor mereka saja”, suruhnya padaku.
“Hehe, tidak berani
pa”, aku tertawa kecil.
Pasangan itu pun
tiba-tiba melanjutkan perjalannya. Mungkin mereka sadar betul sedang
dibicarakan oleh diriku dan bapa yang ada di sampingku ini.
“Tapi, saya benar-benar
kawatir loh de dengan pergaulan anak-anak sekarang. Bagaimana kondisi anak-anak
saya nanti ketika mereka sudah dewasa. Hal-hal pulgar seperti itu mungkin dengan mudah dapat dijumpai.”
“Saya tidak bisa
memikirkan hal sejauh itu pa. Yang jelas dunia ini selalu berputar dan pada
akhirnya akan berhenti juga”
“Semoga ade bisa
menjaga pasangan ade yah. Terkadang tanpa sadar kita dapat melakukan hal-hal
yang tidak diinginkan seperti pasangan yang saya jumpai tadi”
Aku merenungi kalimat
bapa tadi. Ucapannya benar, biasanya terkadang kita tanpa sadar melakukan
hal-hal yang yang tidak diinginkan. Walaupun begitu, aku jadi semakin rindu dengan
pasanganku. Sedang apa dia di cuaca sedingin ini. Rasanya ingin sekali membuat
dirinya hangat dengan berada disampingku.
***
Gemuruh petir begitu
menggema disekitar ruang kamar tidurku. AC yang ku setting sampai 160
Celcius dan jendela kamar yang terbuka membuat badanku menggigil. Benar-benar
mengagetkan sekali petir yang menyambar kota Cilegon di sore hari ini. Aku
mengangkat wajahku dengan kebingungan akan mimpi yang baru saja ku alami. Aku
mengingat sedikit ucapan seorang bapa yang ada di dalam mimpiku. “Semoga ade
bisa menjaga pasangan ade yah. Terkadang tanpa sadar kita dapat melakukan
hal-hal yang tidak diinginkan seperti pasangan yang saya jumpai tadi”.
Aku ingat tentang
jalan-jalanku bersama Dina tadi pagi. Aku tidak sengaja menciumnya di depan
keluarga yang tidak aku kenal. Aku bergegas mencari handphoneku. Ku lihat ada
tujuh kali misscall dan dua pesan di
dalam handphoneku. Aku tiba-tiba merinding mengetahui bahwa ada misscall dan
pesan di handphoneku.
Benar dugaanku,
misscall dan pesan yang berada di handphone ku berasal dari Dina. Ku lihat dua
pesan itu dengan seksama.
Pesan pertama :
‘Bebs,
aku ketahuan orang tuaku tentang kejadian tadi pagi. Aku jadi menyesal
sekarang. Apa yang harus ku perbuat Bebs. Tidak inginkah kamu menjelaskan sedikit
tentang kejadian tadi pagi kepada orang tuaku. Aku benar-benar ketakutan
sekarang. Ibuku menangis dan Ayahku masih sakit hati dan marah kepadaku’
Pesan
kedua :
‘Kenapa
kamu tidak mengangkat telponku Beb. Aku sekarang sedang butuh kamu. Apa yang
harus kulakukan agar orang tuaku tidak marah lagi denganku. Tolong aku Beb’
Aku tiba-tiba menangis
karena semua yang terjadi tadi pagi memang kesalahan mutlak dari diriku. Tapi,
kenapa orang tuanya bisa tahu kalau aku berciuman denganya. Ku telpon Dina
dengan perasaan bersalah.
“Halo, Dina”
“Iya, aku disini”,
suaranya redup. Sangat jelas bahwa dia sedang menerima telponku sambil
menangis.
“Maaf, yah soal
kejadian tadi pagi di Jogging Track.
Aku benar-benar khilaf”
“Trus aku harus bagaimana
Bebs, lagi pula kita melakukannya atas dasar suka sama suka”
“Sejujurnya aku lepas
kontrol saja waktu itu. Aku benar-benar menyayangimu dan tidak terpikir
dibenakku bahwa aku sampai bisa berbuat hal yang tidak pantas itu”
“Ya sudahlah Bebs, aku
juga salah. Terus apa yang harus aku lakukan agar orang tuaku tidak marah
padaku lagi?”
“Aku akan ke rumahmu
sekarang. Dan menjelaskan perihal kejadian yang tidak seharusnya itu kepada
orang tuamu”
“Kita selalu backstreet kan Bebs. Sekarang kamu siap
buat ketemu orang tuaku”
“Ya, memang seharusnya
aku dari awal hubungan denganmu memiliki izin dari orang tuamu kan. Aku
benar-benar bersalah kepadamu”
“Orang tuaku memang
benci mendengar kata pacaran, Bebs. Jangan berkata yang macam-macam yah. Aku
benar-benar masih ingin bersamamu”
“Tapi, orang tuamu tahu
kejadian tadi pagi itu darimana yah?”
“Ceritanya begini Bebs,
ternyata, keluarga yang melihat kita ciuman itu ada hubungan teman dengan
Ayahku. Dia hafal betul dengan diriku, tapi aku tidak mengingat tentang teman
Ayahku itu.”
“Owh, begitu yah. Kamu
jangan menangis lagi yah. Aku akan ke rumahmu sekarang juga. Semoga orang tuamu
memaafkanku dan memberikan izin untuk tetap berhubungan denganmu”
“Iya Bebs, makasih yah”
Klik, handphone
kumatikan. Aku bergegas mengganti baju dan kemudian pergi untuk menemui
keluarga Dina. Hujan tidak menjadi penghambat bagi dosaku yang mungkin tidak
bisa dimaafkan. Kekhilafanku mungkin menjadikan luka bagi keluarganya. Apalagi
bila sampai teman orang tuanya itu tahu bahwa anaknya berbuat sesuatu yang
tidak pantas. Tidak ada salahnya untuk meminta maaf, bahkan memang aku harus
minta maaf atas kesalahan yang telah aku perbuat. Aku akan siap menerima
hukuman yang akan diberikan orang tuanya padaku meskipun memang diriku ini
sulit untuk dimaafkan.
Selesai, di
Cilegon, Banten.
Sabtu 17
September 2011, pukul 20:45 pm.