Dahulu kala ada seorang pemuda yang tinggal di hutan. Dia tinggal di sebuah gubuk di tengah hutang bersama ayahnya. Dia adalah pemuda pekerja keras dan juga cerdas. Dia juga adalah pemanah yang sangat ulung. Setiap mangsanya pasti dapat ia tangkap dengan mudah
Suatu hari dia bermimpi bertemu dengan ibunya yang sudah meninggal. Dalam mimpinya, ibunya menyuruhnya untuk pergi ke utara. Pagi harinya, untuk mengetahui apa maksud mimpinya semalam, diapun bertekad untuk pergi ke utara. Dengan seizin ayahnya ia pun pergi dengan membawa buah-buahan untuk bekal di perjalanan.
Diperjalan dia bertemu dengan kakek tua renta yang sedang duduk di bawah pohon. Dengan senyum ramah dia menegurnya ”Assalamualaikum wr wb, Kakek sedang apa di sini?”.
Sang kakek menjawab “Walaikumsalam wr wb. Anak muda kakek sedang ke laparan di sini. Kakek kelelahan mengangkat seikat kayu bakar itu” sambil menunjukan telunjuknya ke arah kayu bakar.
“Pantas saja kakek merasa lelah, kayu bakar itukan sangat berat. Seharusnya kakek tidak mengangkat barang seberat itu”, kata sang pemuda.
”Iya, kakek tahu, kakek salah, tapi tanpa kayu itu, kakek tidak dapat memasak bahan makanan di rumah”, jawab sang kakek.
”Memang kakek tidak mempunyai seorang cucu atau anak?”, tanya sang pemuda.
”Sebenarnya kakek hidup sendiri, tanpa seorang istri”, jawab sang kakek.
“Oh, maaf-maaf. Saya tidak bemaksud membuat kakek sedih”, kata sang pemuda.
“Tidak apa-apa”, jawab sang kakek.
“Sekarang kakek makan buah-buahan ini!”, suruh sang pemuda.
“Tapi”, balas sang kakek.
“Sudah makan saja!”, balas sang pemuda.
Kakek itu merasa tertolong. Dan akhirnya kakek itu memberikan sebagian kayunya kepada pemuda itu”Ini kakek berikan untukmu, kakek tidak punya apa-apa, jadi terimalah kayu bakar ini”.
“Terima kasih banyak”, pemuda itu tersenyum.
“Sama-sama”, kata kakek.
“Assalamualaikum wr wb”, salam sang pemuda.
“walaikumsalam wr wb”, salam balas sang kakek.
Diapun berpisah dengan kakek itu.
Di perjalan selanjutnya dia bertemu dengan seorang pemburu. Dia melihat pemburu itu seperti membutuhkan pertolongan, diapun menghampirinya.
“Assalamualaikum wr wb”,sapa sang pemuda.
“walaikumsalam wr wb”, balas sang pemburu.
“Maaf, apakah anda sedang kesulitan? Karena saya lihat dari kejauhan anda seperti sedang kebingungan”, tanya sang pemuda.
“Abdi keur ngemutan, kumaha nuangna iye daging? Kumargi teu aya nanaon di dieu mah”, jawab sang pemburu.
“Maaf saya kurang mengerti bahasa anda. Bisakah anda mengubah bahasa anda menjadi bahasa yang saya gunakan sekarang”, sambut sang pemuda.
“Ok, I am sorry about that”, balas sang pemburu.
“maaf, sori itu makanan atau bukan?”, kata sang pemuda sambil kebingungan.
“Kumaha si ujang teh, sorry teh sanes daharen. Ujang teh urang mana nya? ma’enya teu ngartos basa sunda jeung basa belanda. eh, bahasa inggris”, sang pemburu menggoda.
“Maaf bila anda tidak dapat serius, saya permisi untuk melanjutkan per jalan saya”, kata sang pemuda dengan raut muka marah.
“Maaf saya cuma bercanda saya bisa kok bahasa anda, tapi nggak sebaku anda tidak apa-apakan?”, kata sang pemburu.
“Tidak apa-apa yang terpenting kita dapat berkomunikasi”, balas sang pemuda sambil meredakan amarahnya.
“Begini, dari tadi saya mencari cara untuk memasak daging yang saya dapat dari hasil berburu. Biasanya saya tau jadi aja tinggal makan”, kata sang pemburu.
“Oh, ternyata begitu. Mungkin saya bisa Bantu”, kata sang pemuda.
Sang pemuda lalu membakar kayu bakar yang dia bawa dengan cara tradisional.
“Apa yang sedang kamu lakukan?”, tanya sang pemburu.
“Saya sedang membakar kayu, untuk memasak daging anda”, jawab sang pemuda.
“Boleh juga kamu jang”, sang pemburu memuji.
Singkat cerita daging sang pemburu yang sebagianpun dimasak dan dimakan, dan daging yang sebagian lagi di berikan kepada sang pemuda.
“Ini untukmu jang, daging sisa tadi, yang belum di masak, saya sangat tertolong tadi”, kata sang pemburu.
“Sama-sama, mungkin bila tidak ada anda sayapun akan kelaparan”, balas sang pemuda.
“Oh iya tadi ujang ceritakan bisa berburu. Selain daging, nih, saya berikan sebuah panah untuk menemani perjalanan ujang”, kata sang pemburu sambil memberikan panah miliknya.
“Terima kasih, tapi panah ini bukankah untuk mencari buruan anda yang lain?”, kata sang pemuda.
“Tidak apa-apa. Lagian masih bisa saya buat lagi”, balas sang pemburu.
“Terima kasih banyak atas pertolongan anda. Saya permisi untuk melanjutkan perjalan saya. Assalamualaikum wr wb”, sapa sang pemuda.
“Walaikumsalam wr wb, silahkan”, sang pemburupun meninggalkan sang pemuda.
Setelah berjalan jauh akhirnya dia melihat sebuah kota dari atas sebuah bukit. Diapun segera berjalan menelusuri jalan-jalan kota tersebut. Ketika melewati pasar kota itu, dia melihat kerumunan orang sedang melihat papan pengumuman. Diapun menghampiri papan pengumuman itu, ternyata pengumuman itu berisi sayembara. Dalam papan pengumuman tersebut di tuliskan bagi siapa saja ksatria yang mendaftar dan dapat menyelesaikan tes-tes yang di berikan oleh raja, maka dia berhak meminang putrinya yang sebentar lagi akan di nobatkan sebagai ratu kerajaan kota tersebut. Tanpa pikir panjang pemuda itu bergegas pergi ke istana raja untuk mendaftar. Tapi ketika setibanya di sana ternyata tidak ada satu orangpun yang terlihat mendaftar. Diapun bertanya pada prajurit yang menjaga pintu gerbang.
“Assalamualaikum wr wb”, salam sang pemuda.
“Walaikumsalam wr wb”, salam balik sang prajurit.
”Maaf, apakah di sini tempat diadakanya pendaftaran sayembara?”, tanya sang pemuda.
“Oh, bukan di sini tempatnya, tetapi ada di suatu tempat”, jawab prajurit.
“Terima kasih atas jawabanya, maaf menggangu anda yang sedang bertugas”, kata sang pemuda.
“Sama-sama”, balas sang prajurit.
“Assalamualaikum wr wb”, sapa sang pemuda.
“Walaikumsalam wr wb”, Balas sang prajurit.
Diapun kebingung harus mencari di mana. Dengan raut muka kecewa, dia berjalan lagi menelusuri kota untuk mencari tempat berteduh, tetapi di perjalanannya dia melihat seorang anak kecil sedang menarik baju seorang pedagang daging. Dia mendengar anak itu menangis menginginkan daging, tanpa pikir panjang diapun menghampiri anak kecil itu dan memberikan sisa daging yang di dapat dari si pemburu. Anak itu seketika menghentikan tangisannya dan mengajak pemuda itu ke suatu tempat. Ternyata tempat itu adalah tempat pendaftaran sayembara yaitu toko pakaian. Dia sangat senang sekali dapat menemukan kerumunan pendaftar. Diapun segera mendaftar dan mendapatkan waktu sayembara. Dia berpikir mengapa anak itu mengajaknya ke toko tersebut, diapun bertanya kepada anak itu ternyata toko itu adalah rumahnya. Dan dia jadi tahu kenapa tempat pendaftarannya ada di toko itu, ibu anak itu menceritakan bahwa toko itu adalah toko langganan sang raja bila ingin mendisain baju. Mungkin karena itu toko ini di percaya menjadi tempat pendaftaran para ksatria. Ibu anak itupun berterima kasih karena telah membuat anaknya gembira, diapun memberikan kamar untuk pemuda itu beristirahat, sampai tiba saatnya sayembara.
Sayembra di mulai pagi hari sekali. Pemuda itu telah siap menghadapi tes-tes yang akan di berikan. Dia belum tahu bahwa tes pertama adalah tes memanah. Dia sangat bersyukur karena dia memiliki panah yang diberikan si pemburu. Diapun berpikir kalau dia tidak bertemu dengan si pemburu bagaimana jadinya, mungkin dia akan kebingungan lagi mencari panah di kota seluas itu.
Tes memanah di mulai semua peserta berada di posisi menembak, sasarannya adalah titik merah yang ada di tengah papan yang berbentuk lingkaran. Dengan penuh rasa yakin terhadap kemampunya, pemuda itu menembakan anak panahnya ke tengah papan. Dan mata panahpun menancap tepat di tengah-tengah papan. Diapun lulus dan berhak mengikuti tes yang lain.
Tes kedua adalah kotak keberuntungan. Karena pada tes memanah ada 10 orang yang lulus maka raja menyiapkan 10 kotak pilihan yang harus di ambil oleh setiap peserta. Pemuda tersebut yakin pada kotak yang di pilihnya. Setelah para ksatria berdiri di kotak pilihanya, sekarang para ksatria harus membuka kotak itu. 7 orang ksatria harus pulang kalau ternyata kotak yang di pilihnya tidak berisi apa-apa. Ternyata pemuda hutan itu adalah 3 orang ksatria yang beruntung. 3 ksatria itu berhak mengikuti tes yang terakhir.
Tes terakhir yaitu membuat seekor monyet peliharaan sang raja yang sangat pintar dan mengerti bahasa manusia menggeleng-gelengkan kepala. 2 ksatria gagal membuat monyet itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Hanya tinggal pemuda hutan itu yang tersisa. Ternyata dengan pemuda itu, monyet itu dengan mudahnya menggeleng-gelengkankan kepalanya, kerena pemuda itu membisikan kalimat ancaman kepada sang monyet yaitu, “bila kau tidak menggeleng-gelengkan kepalamu, akan kuberi tahukan kepada sang raja agar kau di penggal, karena sang raja memerintahkan saya membuatmu menggeleng-gelengkan kepala. Bukankah perintah raja tidak dapat kau tolak” monyet itu berpikir dan tanpa sadar menggelengkan kepalanya.
Akhirnya pemuda hutan itu mendapatkan tahta dan seorang pendamping hidup yang sangat cantik.
(Di tulis ketika kelas 1 SMA untuk sebuah tugas dari guru bahasa Indonesia)

Wah, ini cerpen masih k kanak-kanakan, Hoho...
BalasHapusJd kangen SMA...